Cara Mengerjakan Soal Deret Angka pada Psikotes
Soal deret angka hampir selalu muncul di bagian numerik psikotes kerja. Bentuknya sederhana: sederet angka dengan satu atau dua tempat kosong, dan Anda diminta menemukan angka yang melanjutkannya. Kesulitannya bukan pada hitungannya, yang hampir selalu bisa dikerjakan di kepala, melainkan pada menemukan pola dengan cepat di bawah batas waktu yang ketat. Kabar baiknya, pola yang dipakai dalam soal deret jumlahnya terbatas. Bila Anda memeriksanya dengan urutan yang tetap, sebagian besar soal bisa dipecahkan dalam belasan detik. Panduan ini menjelaskan urutan pemeriksaan itu beserta contoh pengerjaannya.
Diperbarui
Apa yang diuji soal deret angka
Soal deret mengukur kemampuan melihat keteraturan di balik sekumpulan angka. Kemampuan ini dekat dengan penalaran: Anda membuat dugaan tentang aturannya, mengujinya pada angka-angka yang ada, lalu membuang dugaan yang tidak cocok. Karena itulah soal deret sering dipakai bersama soal logika untuk menilai cara berpikir, bukan hanya kecakapan berhitung.
Satu hal yang perlu diingat: sebuah aturan baru dianggap benar bila berlaku untuk SEMUA angka di deret, bukan hanya dua atau tiga angka pertama. Banyak jawaban salah lahir dari pola yang tampak cocok di awal, lalu dipakai tanpa diperiksa sampai akhir.
Langkah 1: hitung selisih antarangka
Mulailah selalu dari yang paling sederhana. Kurangkan setiap angka dengan angka sebelumnya, lalu tulis selisihnya di antara keduanya. Pada deret 4, 9, 14, 19, selisihnya selalu 5, sehingga angka berikutnya adalah 19 + 5 = 24.
Selisih juga bisa negatif. Deret 50, 44, 38, 32 berkurang 6 setiap langkah, sehingga lanjutannya 26. Menuliskan selisih di atas kertas buram, alih-alih menghitungnya di kepala, membuat pola berikutnya lebih mudah terlihat.
Langkah 2: periksa selisih dari selisih
Bila selisihnya tidak tetap, jangan berhenti. Lihat apakah selisih itu sendiri membentuk pola. Pada deret 2, 3, 5, 8, 12, selisihnya 1, 2, 3, 4. Selisih itu bertambah satu setiap langkah, jadi selisih berikutnya 5 dan lanjutannya 12 + 5 = 17.
Deret seperti ini disebut deret bertingkat. Kadang selisih tingkat kedua pun belum tetap, dan Anda perlu turun satu tingkat lagi. Namun dalam psikotes kerja, pola jarang lebih dalam dari dua tingkat; bila tiga tingkat pun belum menunjukkan keteraturan, kemungkinan besar polanya bukan penjumlahan.
Langkah 3: coba perkalian atau pembagian
Angka yang membesar dengan cepat biasanya menandakan perkalian. Pada deret 3, 6, 12, 24, setiap angka adalah dua kali angka sebelumnya, sehingga lanjutannya 48. Deret yang mengecil dengan cepat, seperti 81, 27, 9, 3, biasanya dibagi; di sini setiap angka dibagi 3, jadi lanjutannya 1.
Ada juga pola gabungan perkalian dan penjumlahan. Pada deret 2, 5, 11, 23, angka berikutnya selalu dua kali angka sebelumnya ditambah 1: 2 × 2 + 1 = 5, 5 × 2 + 1 = 11, 11 × 2 + 1 = 23. Lanjutannya 23 × 2 + 1 = 47. Pola seperti ini juga bisa ditemukan lewat selisih: selisihnya 3, 6, 12, yang masing-masing dua kali sebelumnya, sehingga selisih berikutnya 24 dan 23 + 24 = 47. Dua jalan yang berbeda menghasilkan jawaban yang sama, dan itu cara yang baik untuk memastikan jawaban Anda.
Langkah 4: pisahkan menjadi dua deret berselang
Bila angka-angkanya naik turun tanpa pola yang jelas, coba pisahkan angka di posisi ganjil dari angka di posisi genap. Pada deret 10, 4, 12, 8, 14, 12, posisi ganjil berisi 10, 12, 14 dan posisi genap berisi 4, 8, 12. Masing-masing adalah deret yang rapi: yang pertama bertambah 2, yang kedua bertambah 4.
Angka yang ditanyakan berada di posisi ketujuh, yaitu posisi ganjil, sehingga jawabannya melanjutkan deret pertama: 14 + 2 = 16. Kesalahan yang paling sering pada pola ini adalah melanjutkan deret yang salah, jadi selalu periksa posisi angka yang ditanyakan.
Langkah 5: kenali pola khusus
Beberapa pola tidak tertangkap oleh empat langkah di atas, tetapi muncul cukup sering untuk dihafal bentuknya.
- Penjumlahan dua angka sebelumnya: pada 1, 2, 3, 5, 8, 13, setiap angka adalah jumlah dua angka di depannya, sehingga lanjutannya 8 + 13 = 21.
- Bilangan kuadrat: 1, 4, 9, 16, 25 adalah 1², 2², 3², 4², 5², sehingga lanjutannya 6² = 36. Selisihnya, 3, 5, 7, 9, juga memberi petunjuk: bilangan ganjil berurutan.
- Bilangan kubik: 1, 8, 27, 64 adalah 1³ sampai 4³, sehingga lanjutannya 125.
- Bilangan prima: 2, 3, 5, 7, 11, 13 tidak punya selisih tetap; yang menyatukannya adalah sifat setiap angka. Lanjutannya 17.
Urutan pemeriksaan yang menghemat waktu
Dengan waktu yang ketat, urutan pemeriksaan sama pentingnya dengan mengenali pola. Urutan berikut mendahulukan pola yang paling sering muncul dan paling cepat diperiksa.
- Lihat sekilas arah dan kecepatan perubahan: naik pelan, naik cepat, turun, atau naik turun.
- Naik atau turun pelan: hitung selisih, lalu selisih dari selisih.
- Naik atau turun cepat: coba perkalian, pembagian, atau gabungan kali dan tambah.
- Naik turun: pisahkan posisi ganjil dan genap.
- Bila belum juga ketemu: periksa pola khusus, lalu tandai soal dan lanjutkan. Kembali bila waktu tersisa.
Baca juga: Strategi mengatur waktu saat psikotes
Kesalahan yang sering terjadi
Hampir semua kesalahan pada soal deret berasal dari kebiasaan kerja, bukan dari kemampuan berhitung.
- Memakai pola yang hanya cocok untuk dua atau tiga angka pertama tanpa memeriksanya sampai akhir deret.
- Melanjutkan deret yang salah pada pola berselang.
- Salah hitung karena semua selisih dikerjakan di kepala; menuliskannya jauh lebih cepat dan aman.
- Terjebak terlalu lama di satu soal, padahal setiap soal biasanya bernilai sama.
- Tidak memanfaatkan pilihan jawaban. Bila dua pola terasa mungkin, cocokkan hasil keduanya dengan pilihan yang tersedia.
Cara berlatih
Kecepatan mengenali pola terbentuk lewat latihan yang diberi batas waktu. Mulailah dengan waktu longgar sampai urutan pemeriksaan di atas terasa otomatis, lalu kurangi waktunya sedikit demi sedikit. Catat jenis pola yang paling sering membuat Anda salah atau lambat, karena di situlah latihan berikutnya paling berguna.
Di Elaju, soal numerik yang paling sering Anda salahkan atau paling lama Anda kerjakan akan lebih sering muncul kembali, sehingga latihan terpusat pada pola yang belum Anda kuasai.
Baca juga: Latihan psikotes numerik · Cara mengerjakan tes Pauli dan Kraepelin
Latih dengan soal yang menyesuaikan kemampuan Anda
Panduan membantu Anda tahu apa yang harus disiapkan, tetapi kecepatan dan ketelitian hanya terbentuk lewat latihan berulang.
Coba 5 soal gratis tanpa daftar · Lihat semua materi psikotes
Pertanyaan yang sering diajukan
- Berapa lama waktu ideal untuk satu soal deret angka?
- Bergantung pada jumlah soal dan waktu di bagian itu. Hitung sendiri di awal: waktu dibagi jumlah soal. Pada banyak tes, jatahnya hanya sekitar setengah sampai satu menit per soal, sehingga soal yang belum terpecahkan setelah dua kali jatah sebaiknya ditandai dan dilewati dulu.
- Bolehkah memakai kalkulator untuk soal deret?
- Umumnya tidak. Psikotes kerja biasanya melarang kalkulator, dan soal deret memang dirancang agar hitungannya sederhana. Yang perlu disiapkan adalah kertas buram, bila diizinkan, untuk menuliskan selisih.
- Bagaimana kalau dua pola berbeda sama-sama cocok?
- Periksa keduanya terhadap seluruh angka di deret, bukan hanya angka awal. Bila keduanya tetap cocok, hitung lanjutan menurut masing-masing pola lalu cocokkan dengan pilihan jawaban; biasanya hanya satu yang tersedia.
- Apakah soal deret juga memakai huruf?
- Sebagian tes memakai deret huruf. Cara mengerjakannya sama: ubah huruf menjadi urutannya di alfabet (A = 1, B = 2, dan seterusnya), cari pola angkanya, lalu ubah kembali menjadi huruf.