Cara Mengerjakan Tes Pauli dan Kraepelin

Tes Pauli dan Kraepelin sering disebut tes koran, karena lembar kerjanya dipenuhi deretan angka seperti halaman surat kabar. Soalnya sendiri sangat sederhana: menjumlahkan dua angka satu digit. Yang membuatnya berat adalah durasinya. Anda melakukan penjumlahan yang sama berulang-ulang dalam waktu lama, sementara pengawas memberi aba-aba secara berkala. Tes ini tidak mencari siapa yang paling pintar berhitung, melainkan bagaimana Anda bekerja ketika tugasnya monoton, panjang, dan melelahkan. Karena itu, cara mempersiapkannya pun berbeda dari soal psikotes pilihan ganda.

Diperbarui

Aturan dasar yang sama pada keduanya

Pada kedua tes, Anda menjumlahkan dua angka yang bersebelahan, lalu menuliskan hasilnya. Umumnya yang ditulis hanya angka satuannya. Tujuh ditambah delapan sama dengan lima belas, jadi yang ditulis lima. Enam ditambah tiga sama dengan sembilan, jadi yang ditulis sembilan.

Setiap angka dipakai dua kali: sekali bersama angka sebelumnya dan sekali bersama angka sesudahnya. Dari deret 7, 8, 6, 3, penjumlahannya adalah 7+8, lalu 8+6, lalu 6+3, dan hasil yang ditulis berturut-turut adalah 5, 4, dan 9. Penjumlahan berantai inilah yang membuat mata dan tangan harus terus bergerak tanpa jeda.

  • Tulis hasil di antara kedua angka yang dijumlahkan, atau di tempat yang ditunjukkan instruksi.
  • Ikuti arah pengerjaan yang diinstruksikan, misalnya dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas. Arahnya bisa berbeda antarformat dan antarpenyelenggara, dan salah arah bisa merusak penilaian seluruh lajur.
  • Bila instruksi meminta hasil ditulis utuh, bukan hanya satuannya, ikuti instruksi itu. Aturan satuan saja adalah kebiasaan umum, bukan ketentuan mutlak.

Perbedaan tes Kraepelin dan tes Pauli

Tes Kraepelin memakai lembar berisi banyak lajur angka yang relatif pendek. Anda mengerjakan satu lajur, lalu pindah ke lajur berikutnya setiap kali pengawas memberi aba-aba, biasanya dalam selang beberapa detik. Karena waktunya dibagi rata per lajur, jumlah penjumlahan di tiap lajur membentuk gambaran naik-turunnya kecepatan Anda sepanjang tes.

Tes Pauli memakai lembar yang lebih besar dengan deret angka yang panjang, dan dikerjakan terus-menerus dalam waktu yang lebih lama, umumnya sekitar satu jam. Pada selang waktu tertentu pengawas memberi aba-aba, lalu Anda membuat garis atau tanda pada posisi terakhir sebelum melanjutkan. Tanda-tanda itulah yang dipakai untuk melihat perubahan kecepatan Anda dari waktu ke waktu.

  • Kraepelin: banyak lajur pendek, dan Anda pindah lajur setiap aba-aba.
  • Pauli: deret panjang yang dikerjakan terus, dan Anda memberi tanda setiap aba-aba.
  • Keduanya: angka satu digit, penjumlahan berantai, dan penilaian yang melihat pola kerja dari awal sampai akhir.

Apa yang sebenarnya dinilai

Hasil tes ini umumnya dibaca dari beberapa sisi sekaligus, bukan dari satu angka nilai.

  • Kecepatan: berapa banyak penjumlahan yang Anda selesaikan.
  • Ketelitian: berapa banyak hasil yang salah atau terlewat.
  • Keajegan: seberapa stabil kecepatan Anda dari satu periode ke periode berikutnya.
  • Ketahanan: apakah kecepatan dan ketelitian Anda bertahan sampai akhir, atau merosot tajam di bagian belakang.

Baca juga: Jenis-jenis tes psikotes kerja

Hasil terbanyak belum tentu hasil terbaik

Karena empat sisi di atas dinilai bersama, peserta yang sangat cepat di awal tetapi banyak salah dan melambat drastis di akhir bisa terbaca kurang baik dibanding peserta yang sedikit lebih lambat tetapi stabil dan teliti. Penafsiran lengkapnya menjadi kewenangan psikolog yang memeriksa, dan bisa berbeda menurut kebutuhan posisi yang dilamar.

Implikasinya sederhana: tujuan Anda bukan memecahkan rekor kecepatan, melainkan bekerja dengan tempo yang sanggup dipertahankan dari aba-aba pertama sampai terakhir, sambil tetap teliti.

Cara mengerjakan saat tes berlangsung

Setelah memahami aturan dan yang dinilai, cara mengerjakannya bisa diringkas menjadi beberapa kebiasaan yang perlu dijaga sepanjang tes.

  • Dengarkan instruksi dan kerjakan contoh soal dengan sungguh-sungguh. Di situ Anda memastikan arah pengerjaan, letak menulis hasil, dan cara membuat tanda.
  • Mulailah dengan tempo sedikit di bawah kecepatan maksimal Anda, lalu pertahankan. Tempo yang stabil lebih berharga daripada kecepatan tinggi yang habis di tengah jalan.
  • Gunakan ujung pensil sebagai penunjuk supaya mata tidak melompat ke baris atau lajur lain.
  • Saat aba-aba untuk pindah lajur atau membuat tanda terdengar, lakukan segera. Terlambat pindah atau lupa menandai membuat catatan waktunya tidak akurat.
  • Bila salah menulis, perbaiki sesuai instruksi, misalnya dengan mencoret, lalu lanjutkan tanpa berlama-lama.
  • Jangan melompati angka untuk mengejar jumlah. Penjumlahan yang terlewat terlihat jelas saat lembar diperiksa.
  • Bila lelah, pelankan sedikit tetapi jangan berhenti. Kecepatan yang turun perlahan jauh lebih baik daripada jeda panjang lalu mengejar.

Cara berlatih sebelum hari tes

Bagian yang paling terbantu oleh latihan adalah penjumlahan dua angka satu digit. Pasangan angkanya terbatas, sehingga semuanya bisa dilatih sampai hasilnya muncul tanpa perlu menghitung. Begitu penjumlahan menjadi otomatis, tenaga Anda tidak lagi habis untuk berhitung dan bisa dipakai untuk menjaga tempo dan ketelitian.

  • Latih penjumlahan satu digit dalam sesi singkat tetapi sering, misalnya sepuluh sampai lima belas menit sehari.
  • Buat lembar latihan sendiri dengan menulis deret angka acak di kertas bergaris, lalu kerjakan dengan pengatur waktu dan aba-aba berkala, misalnya alarm di ponsel.
  • Sekali atau dua kali menjelang hari tes, lakukan sesi panjang yang mendekati durasi sesungguhnya untuk melatih ketahanan dan menemukan tempo yang sanggup Anda jaga.
  • Setelah latihan, hitung jumlah penjumlahan di setiap periode. Periode yang merosot tajam menunjukkan di mana Anda perlu menata ulang tempo.
  • Latih juga posisi duduk dan cara memegang pensil. Pada tes yang panjang, pegal di tangan dan punggung ikut menurunkan kecepatan.

Baca juga: Latihan psikotes numerik · Strategi mengatur waktu saat psikotes

Kesalahan yang sering terjadi

Hampir semua kesalahan pada tes ini bukan karena tidak bisa berhitung, melainkan karena cara bekerja yang tidak terjaga.

  • Memulai dengan kecepatan penuh, lalu kehabisan tenaga di tengah tes.
  • Menjumlahkan pasangan yang salah karena mata melompat ke baris lain.
  • Menulis hasil dua digit padahal yang diminta hanya angka satuannya.
  • Berhenti lama untuk memeriksa ulang satu hasil yang meragukan.
  • Terlambat pindah lajur atau lupa membuat tanda ketika aba-aba diberikan.

Baca juga: Persiapan sehari sebelum hingga hari-H

Latih dengan soal yang menyesuaikan kemampuan Anda

Panduan membantu Anda tahu apa yang harus disiapkan, tetapi kecepatan dan ketelitian hanya terbentuk lewat latihan berulang.

Coba 5 soal gratis tanpa daftar · Lihat semua materi psikotes

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah tes Pauli dan Kraepelin bisa dilatih?
Bisa, terutama kecepatan menjumlahkan dan ketahanan bekerja dalam waktu lama. Latihan membuat penjumlahan satu digit menjadi otomatis, sehingga tempo Anda lebih mudah dijaga. Yang tidak perlu dilakukan adalah mencoba mengatur hasil agar tampak tertentu; cukup kerjakan dengan tempo yang stabil dan teliti.
Seberapa besar pengaruh jawaban yang salah?
Ketelitian termasuk yang dinilai, jadi kesalahan tetap diperhitungkan. Satu atau dua kesalahan kecil wajar terjadi pada tes sepanjang ini. Yang lebih merugikan adalah kesalahan yang terus bertambah atau kecepatan yang merosot tajam menjelang akhir.
Berapa lama tes Kraepelin berlangsung?
Bergantung pada jumlah lajur dan selang waktu yang dipakai penyelenggara. Umumnya lebih singkat daripada tes Pauli, tetapi tetap cukup panjang untuk menguji ketahanan. Ikuti saja aba-aba pengawas dan jangan menghabiskan perhatian untuk menghitung sisa waktu.

Panduan lainnya